Forum MTM

Login dulu masbro dan mbaksis!
Sub-forum keprofesian (yang berisi slide dll.) hanya dapat dibuka ketika sudah menjadi member.
Silahkan dipencet tombol register kalau belum jadi member Smile
FORUM MTM dan WEBSITE MTM kini sudah aktif! FORUM MTM: http://mtmitb.forumotion.com WEBSITE MTM: http://mtm.material.itb.ac.id
Bagi brother dan sister yang sudah mendaftar, harap segera berkenalan dulu di Thread 'Mari Berkenalan!' http://mtmitb.forumotion.com/t1-mari-berkenalan
Di Forum kita ini ada fitur Chattingnya juga, tinggal di klik saja tombol login di kotak chatbox! Very Happy
Untuk saran dan pertanyaan bisa di luangkan di http://mtmitb.forumotion.com/f2-saran-dan-pertanyaan
Brother/Sister yang baru mendaftar di forum kita: ayindra

    ACFTA dan Pengaruhnya Terhadap Industri & UKM di Indonesia

    Share

    Admin
    Admin
    Admin

    Posts : 13
    Cendol : 0
    Join date : 2011-02-23
    Age : 18
    Location : Labtek Biru

    ACFTA dan Pengaruhnya Terhadap Industri & UKM di Indonesia

    Post by Admin on Thu May 12, 2011 7:27 am

    ya brother and sister,

    Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN–Cina (ASEAN–China Free Trade Area, ACFTA),
    adalah suatu kawasan perdagangan bebas di antara anggota-anggota ASEAN
    dan Cina. Kerangka kerjasama kesepakatan ini ditandatangani di Phnom Penh, Cambodia, 4 November 2002, dan ditujukan bagi pembentukan kawasan perdagangan bebas pada tahun 2010, tepatnya 1 Januari 2010. (diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kawasan_Perdagangan_Bebas_ASEAN-Tiongkok)

    berikut ini merupakan dua pandangan brother kita mengenai dampak dari ACFTA ini terhadap Industri & UKM di Indonesia.


    Last edited by Admin on Thu May 12, 2011 7:42 am; edited 2 times in total

    Admin
    Admin
    Admin

    Posts : 13
    Cendol : 0
    Join date : 2011-02-23
    Age : 18
    Location : Labtek Biru

    Re: ACFTA dan Pengaruhnya Terhadap Industri & UKM di Indonesia

    Post by Admin on Thu May 12, 2011 7:27 am

    Pemerintah mengaku belum bisa memprediksikan seberapa besar dampak pemberlakuan
    perjanjian perdagangan bebas Asean-China (ACFTA) terhadap pelaku usaha kecil dan menengah
    (UKM) di Tanah Air. Menurut Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan, dampak
    perdagangan bebas tersebut akan signifikan jika dievaluasi setelah melewati
    semester pertama tahun ini. Pemerintah mengaku belum bisa memprediksikan
    seberapa besar dampak pemberlakuan perjanjian ACFTA ini terhadap pelaku usaha
    kecil dan menengah (UKM) di Tanah Air.


    Menurut beberapa pendapa para ahli, seharusnya dengan adanya perjanjian ACFTA ini bisa
    berdampak positif bagi UKM di Tanah Air. Mereka berharap UKM bisa meningkatkan
    kualitas produksinya sehingga bisa bersaing dengan produk dari China. Dengan ini, kualitas produksi
    dalam negeri akan meningkat seraya dengan kecintaan masyarakat dengan memakai
    produk dalam negeri. Intinya, UKM dan industri dalam negeri harus lebih
    kompetitif dalah hal kualitas produksi, produktivitas tinggi, dan cost of fund
    (biaya dana) perlu kita tekan. Dengan ketiga faktor ini siap, berarti UKM dan
    industri dalam negeri sudah baik dan siap.


    Menurut beberapa pendapat lainnya, seharusnya pemerintah membuat kebijakan yang
    membuat UKM dan usaha kecil di Tanah Air merasa aman dan bisa duntungkan.
    Atau dengan kata lain perlindungan bagi UKM dan usaha kecil. Dengan begitu, UKM dan
    usaha kecil bisa tetap berkembang dan tidak termakan oleh produk dari China.


    Ada juga yang berpendapat bahwa perjanjian ini tidak akan terlalu berpengaruh terhadap
    perkembangan dan daya saing UKM. Mereka menyatakan UKM akan bisa berkembang dan
    meningkatkan daya saing mereka dengan produk China. Yang jadi masalah adalah untuk usaha level
    mikro. Usaha level mikro ini akan kalah jauh saing dengan produk China. Dengan
    itu, seharusnya dibuat perlindungan terhadap usaha mikro yang ada di Tanah Air.


    Kesalahan pemerintah yang dilakukan adalah tidak mempersiapkan perekonomian bangsa untuk
    memanfaatkan perjanjian ACFTA ini secara maksimal. Seharusnya, industri-industri lokal
    dipublikasikan secara intens dan besar-besaran agar bisa memperhitungkan apa
    yang harus dilakukan agar perjanjian ini bisa dimanfaatkan dengan baik sebagai salah
    satu pendorong majunya perekonomian bangsa. Tetapi pemerintah malah diam dan
    bisu, tidak mempublikasikannya secara baik. Sedangkan dari pihak China, mereka
    telah mempersiapkannya dengan baik sehingga dilihat setelah berjalannya ini,
    produksi bangsa kita kalah dengan mereka. Banyak sekali yang menyatakan
    penurunan produksi dalam negeri mulai terjadi karena perjanjian ini.





    Arif Cita Perdana


    13709016


    Kementrian
    Eksternal dan Kajian

    Admin
    Admin
    Admin

    Posts : 13
    Cendol : 0
    Join date : 2011-02-23
    Age : 18
    Location : Labtek Biru

    Re: ACFTA dan Pengaruhnya Terhadap Industri & UKM di Indonesia

    Post by Admin on Thu May 12, 2011 7:36 am

    Terdapat dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA yang diberlakukan oleh Indonesia:

    Dampak Negatif:

    Serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri). Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Diproyeksikan 5 tahun ke depan penanaman modal di sektor industri
    pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh
    penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM (industri kecil menegah). Jumlah
    IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustrian tahun 2008 mencapai 16.806
    dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di
    antaranya akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk
    dari Cina (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).



    Pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) Cina lebih murah antara 15% hingga 25%. Hal yang sangat memungkinkan bagi pengusaha lokal untuk bertahan hidup adalah bersikap pragmatis, yakni dengan banting
    setir dari produsen tekstil menjadi importir tekstil Cina atau setidaknya
    pedagang tekstil.



    Karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing. Bahkan produk yang kecil seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor- sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi
    Indonesia.



    Jika di dalam negeri saja kalah bersaing, bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina. Data menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil
    olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah
    sangat digemari oleh Cina yang memang sedang “haus” bahan mentah dan sumber
    energi untuk menggerakkan ekonominya.


    Peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional akan terpangkas dan digantikan impor. Dampaknya, ketersediaan lapangan kerja semakin menurun. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang, sementara pada periode Agustus 2009 saja jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 8,96 juta orang.



    Dampak Positif:

    ACFTA akan membuat peluang kita untuk menarik investasi. Hasil dari investasi tersebut dapat diputar lagi untuk mengekspor barang-barang ke negara yang tidak menjadi peserta ACFTA



    Dengan adanya ACFTA dapat meningkatkan voume perdagangan. Hal ini di motivasi dengan adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga produsen maupun para importir dapat meningkatkan volume perdagangan yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang diproduksi

    ACFTA akan berpengaruh positif pada proyeksi laba BUMN 2010 secara agregat. Namun disamping itu faktor laba bersih, prosentase payout ratio atas laba juga menentukan
    besarnya dividen atas laba BUMN. Keoptimisan tersebut, karena dengan adanya
    AC-FTA, BUMN akan dapat memanfaatkan barang modal yang lebih murah dan dapat
    menjual produk ke Cina dengan tarif yang lebih rendah pula. Porsi terbesar (91
    persen) penerimaan pemerintah atas laba BUMN saat ini berasal dari BUMN sektor
    pertambangan, jasa keuangan dan perbankan dan telekomunikasi. BUMN tersebut
    membutuhkan impor barang modal yang cukup signifikan dan dapat menjual sebagian
    produknya ke pasar Cina.

    Dodi Ihsan Taufiq
    13709027
    Kementerian Eksternal dan Kajian

    Sponsored content

    Re: ACFTA dan Pengaruhnya Terhadap Industri & UKM di Indonesia

    Post by Sponsored content Today at 6:46 am


      Current date/time is Sun Dec 04, 2016 6:46 am